Pada suatu hari seseorang bertanya
kpd guru nya "Apakah Cinta sejati itu?"
Guru menjawab "berjalanlah
lurus di taman bunga yg luas, petiklah 1 bunga yg terindah menurutmu, dan jgn
prnh berbalik ke belakang !"
seseorang itu pun melaksanakan ny
dan plg dgn tangan hampa .
guru ny pun bertanya "mana
bunga ny?"
seseorang itu mnjawab "aku
tidak bisa mndapatkan ny, sbenar ny aku tlah mnemukan ny, tp aku berfikir, di
depan ada yg lebih bagus lg...
ketika aku telah sampai di ujung
taman , aku bru sadar bahwa yg aku temui pertama td adalah yg terbaik, tp aku
tdk bisa kembali lg ke belakang...
guru ny mnjawab "seperti itulah
CINTA SEJATI"
semakin km mncari yg trbaik, maka
kau tak akan prnah mnemukan nya..
jika kau sdh mnemukan cinta dan terikat
dlm sebuah hubungan, janganlah sekali-sekali mncoba tuk berpaling ke lain hati,
karena itulah awal sebuah kehancuran ..
jangan pernah mengabaikan cinta yg
sdh kmu raih, hanya karena pesona cinta semu disekitarmu,karena itu hanya
dipermukaan saja kau lihat ..
perhatian mu kpd cinta lain, biasa
ny melebihi dari cinta yg telah kau dpt, itulah itulah yg mengawali sebuah
perselingkuhan hati.
hentikan jika itu sdh merasuki mu.
kembalilah kpd keabadian cintamu .
jgn prnh sia-siakan cinta yg prnah
tumbuh dihatimu ..
karena waktu tidak akan pernah
berputar dan kembali ..
Daun luntas berfungsi menghilangkan bau badan atau bau tidak
sedap.
Caranya :
Ambil 2 daun luntas dan air 3 gelas, di rebus hingga hanya menjadi
1 gelas . Setelah itu bubuhkan garam sedikit dan di minum setiap hari 1 gelas.
·DAUN SALAM ( Syzygium
polyanthum)
Daun salam berfungsi untuk
obat asam urat dan kolesterol
Caranya :
Ambil 5,7,9, atau 11 daun
salam dan ambil daun yang tua. Setelah itu ambil air 3 gelas dan di rebus
sampai air menjadi 1 gelas. Di minum setiap hari.
·DAUN JARAK ( Jatrophacurcas l )
Daun jarak getahnya berfungsi untuk obat sakit gigi dan bijinya
untuk membuat minyak.
·MAHKOTA DEWA ( Phalrea
macrocarpa)
Mahkota dewa berfungsi untuk obat penyakit darah tinggi.
Caranya :
Buah mahkota dewa dibuka dan di kupas. Setelah itu di rajang
tipis-tipis dan di keringkan. Lalu ambil air 3 gelas dan diambil buah yang
telah kering sebanyak 1 sendok.
·KUNYIT ( Curcuma
domestica)
Kunyit berfungsi untuk membekukan darah, menutup luka,
menghaluskan kulit, dan membantu peredaran darah.
Caranya :
Ambil kunyit ¼ kg. Lalu di cuci, di parut atau di geprek. Setelah
itu di rebus dengan air 10 gelas menjadi 5 gelas. Dan boleh di tambahkan gula
merah sesuai dengan selera. Setelah dingin di tambahkan jeruk nipis dan diminum
2x sehari.
·MENGKUDU ( Morinda
citrifolia)
Mengkudu berfungsi untuk obat darah tinggi, obat kolestrol dan
asam urat.
Caranya :
Ambil buah yang belum matang. Lalu ambil air 3 gelas dan mengkudu
dengan jumlah 5,7,9 atau 11. Bubuhkan garam, gula dan jahe seperlunya. Lalu di
rebus menjadi 1 gelas.
·SERAI (Cymbopogon nardus)
Serai, jahe dan lengkuas di rebus dengan air 3 gelas berfungsi
untuk menyembuhkan penyakit rakhitis (penyakit tulang).
Ketiga komponen tersebut berfungsi untuk mengempeskan pembekakan.
Lalu di tambahkan jahe merah dan air 3 gelas lalu di rebus menjadi
1 gelas berfungsi sebagai:
a. Sebagai penghangat tubuh
b. menghilangkan sakit asma
·KUMIS KUCING (Orthosiehon
stamineus)
Kumis kucing berfungsi untuk melancarkan buang air kecil, mencegah
sakit ginjal, dan mencegah kencing batu.
Caranya :
Kumis kucing direbus dengan air 3 gelas di tambahkan garam dan
gula, sehingga menjadi 1 gelas.
·DAUN YODIUM (Jatropha
multifida l)
Daun yodium berfungsi menutup luka dengan mengggunakan getahnya.
Apabila terdapat luka bisa diberi getah daun yodium.
·DAUN MIANA (Coleus
atropurpureus benth)
Daun miana berfungsi untuk membersihkan darah, melancarkan
peredaraan darah dan melancarkan air susu.
Caranya :
Daun miana di rebus dengan air 3 gelas sampai menjadi 1 gelas.
·LIDAH MERTUA (Sansevieriatrifasclata)
Berfungsi untuk mengurangi polusi udara sehingga di letakan di
dekat jalan-jalan atau parit-parit untuk mengurangi bau tidak sedap. Serta
untuk menawarkan racun.
·ASOKA (Saraca asoca)
Asoka berfungsi untuk mengurangi kadar gula dalam darah.
Caranya :
Daun asoka di rebus dengan air 3 gelas sampai menjadi 1 gelas.
·DAUN SELEDRI (Apium
graveolens)
Daun seledri berfungsi untuk menurunkan penyakit darah tinggi.
Caranya :
Daun seledri di rebus dengan air 3 gelas sampai menjadi 1 gelas.
·KEMBANG SEPATU (Hibiscus
rosa-sinensis l)
Tumbuhan ini berfungsi untuk menghitamkan rambut.
Caranya :
Daun kembang sepatu di rebus dengan air 3 gelas sampai menjadi 1
gelas, lalu di gunakan saat mandi dan diusapkan di bagian rambut.
·BUGENVIL (Bougainvillea
glabra)
Berfungsi untuk mencegah penyakit rakhitis (tulang).
Caranya :
Daun bugenvil di rebus dengan air 3 gelas dan jahe serta daun sop
(daun seledri), setelah itu di rebus hingga menjadi 1 gelas.
·SAWO (Manilkara kauki)
Buah sawo berfungsi untuk obat muntaber.
Caranya :
Ambil buah sawo yang muda lalu di parut dan diperas airnya.
Setelah itu diminum secara teratur.
·DAUN APOKAT (Persea
americana)
Daun apokat berfungsi untuk obat asam urat, kolestrol, dan darah
tinggi.
Caranya :
Ambil daun apokat dan direbus dengan air 3 gelas sampai menjadi 1
gelas.
Semua orang di rumahku sudah tahu, aku mudah sekali takut pada hal-hal sepele.
Misalnya pada kecoa, atau pada kucing kecil tetanggaku. Bahkan bila ada tamu
tak dikenal melangkah masuk ke rumahku, aku terbirit-birit berlari mencari Mama
sambil berteriak, "Mama ada orang asing datang!" jantungku kemudian
akan berdebar kencang, keringat dingin keluar.
Anehnya kejadian demi kejadian terus berlanjut tanpa aku bisa mengerti mengapa
aku menjadi penakut. Adik bungsuku pun gemar mengejekku dengan nyanyian,
"Mas Aver penakut Mas Aver penakut…"
Bagaimana dengan cerita-cerita horor, film hantu, vampire ? Jangan ditanya! Aku
tak berani samasekali menontonnya. Padahal kata Pak Ustadz Agus guru
mengajiku,
"Bila kamu yakin akan keberadaan Tuhan Yang Maha Perkasa, semua rasa takut
tentu tak akan mengusik hati kita. Hati kita tidak akan pernah
gentar."
"Bahkan ada manusia-manusia terpilih yang dapat mengalahkan ketakutan
mereka seperti yang terjadi pada Nabi Sulaiman", lanjut Pak Agus.
Sejak itu aku sering menghadiri pengajian Pak Ustadz Agus di TPA dekat rumahku.
Aku tidak peduli pada ocehan adikku tentang hantu yang bercokol di pohon nangka
di depan teras rumahku.
Ya, adikku, Aji, sering sekali berceloteh bahwa di atas pohon nangka kami ada penunggunya.
Wajahnya seram, berkepala botak, bertubuh tinggi besar kira-kira dua meter.
Katanya si penunggu itu terlihat ngambek bila anak-anak kecil naik ke pohon itu
dan mematahkan ranitng-ranting pohon atau menggores-gores buah nangka yang
belum ranum.
"Kau pikir aku akan takut dengan cerita-cerita khayalmu itu, Aji!"
bentakku pada Aji. Tapi aku bingung juga memikirkan mengapa anak kecil seperti
Aji sudah bisa berkhayal tentang hantu yang tinggi besar dan menakutkan. Apakah
Aji benar-benar telah melihat hantu pohon nangka itu? Atau dia hanya ingin
menakut-nakutiku saja?
"Betul lo Mas Aver. Sudah berkali-kali aku melihat hantu pohon nangka itu
nongkrong di atas dahan yang berada di atas kamar Mas Aver " cerita adikku
suatu hari.
"Lha, mengapa si hantu tidak mengajakmu bermain?" ledekku.
"Hantu itu memang sering turun dari pohon nangka. Ia lalu mengelilingi
rumah, dan dia sepertinya tidak suka jika rumah berantakan. Makanya kamar Mas
Aver harus bersih. Gawat lo, kalau kena marah hantu!" ancamnya. Wah, aku
tertawa geli mendengar cerita Aji.
Sore yang agak mendung, membuatku merasa gerah. Musim hujan sudah tiba rupanya.
Air hujan sering membasahi halaman rumahku, sehingga udara di bawah pohon
nangka agak lembab. Harum buah nangka dan bau bakal buah nangka sering memasuki
kamarku. Aroma yang khas disukai adikku, tapi aku tidak begitu menyukainya. Jam
menunjukkan pukul 17.00. Hujan mulai turun rintik-rintik, menambah dingin suhu
kamarku. Sesaat kemudian telepon di ruang tengah berdering, bergegas aku mengangkatnya.
"Hallo, sayang, ini Mama, Mama dan
Papa tidak bisa pulang sore ini. Nenekmu sekarang sedang dirawat di ruang gawat
darurat…"
Wah, gawat nih, pikirku. Kedua orangtuaku belum pasti pulang malam ini. Hatiku
menjadi gundah, karena malam ini adalah malam Jum'at Kliwon. Orang Jawa bilang
malam yang penuh dengan hal-hal mistik. Waktunya hantu banyak bergentayangan.
Akh, imanku mulai goyah lagi.
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 23.00. Mama Papa belum juga datang.
Aku dan Aji masih bangun. Karena bosan menunggu, akhirnya Aji menyalakan
televisi. Aku masih membaca buku di kamar. Belum beberapa lama,
tiba-tiba...pet! Lampu mati begitu saja, semua gelap gulita.
Aji berteriak memanggilku, akupun tidak kalah kerasnya berteriak memanggil Aji.
Kami saling bersahut-sahutan. Kami berdua amat takut pada kegelapan. Untung
saja, aku segera sadar! Masa aku harus takut pada kegelapan?
Tiba-tiba aku teringat pada hantu pohon nangka. Apakah ia akan muncul di
kegelapan rumah kami. Tak terasa keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku.
"Cepat Mas, kita cari lilin " sela Aji setelah kami saling
beremu.
Brak brak…
"Aduh!" tiba-tiba setumpuk buku menimpa Aji. Adikku merintih
kesakitan.
"Aduh Mas… tolong! Kepalaku sakit, berdarah Mas! Berdarah,
tolong!"
"Sabar Aji, ya…ya… akan kutolong."
Aku meraba-raba dinding rumah mencari korek api. Dan tentu saja aku harus
mencari betadin karena luka Aji harus diobati. Tak berapa lama…Byaar! Lampu
menyala terang sekali. Aku amat girang! Bergegas kuhampiri Aji. Buku-buku menumpuk
berantakan di samping Aji, sementara adikku duduk bersimpuh kesakitan di
lantai. Kuamati ia dengan teliti.
"Mana lukamu? Mana darahnya?" Aku mencari-cari darah di tubuh Aji.
Akh ternayata tak ada darah setetespun yang keluar. Tak ada segores lukapun pada
tubuhnya. Aji meraba-raba dahinya yang basah akibat kena tetesan air
hujan.
"Wah, bocor" celetuk adikku.
Kami tertawa terbahak-bahak Namun tiba-tiba… pet ! Lampu mati kembali, … dengan
terburu-buru kupeluk Aji.
"Ayo Ji, kita masuk kamar saja. Kita tidur saja…"
Terseok-seok kami berdua menuju kamar tidur, kudengar hujan di luar agak keras.
Tiupan angin malam yang menggerakkan daun nangka terdengar jelas olehku.
Bukankah sudah kukatakan dahan-dahan nangka itu tepat berada di atas kamarku.
Seer…seer, bunyi dahan pohon nangka. Kami ingat tentang hantu pohon nangka.
Tiba-tiba terdengar benda terjerembab jatuh di dekat ranjang kami. Hii…iihh!
Kupejamkan mataku. Kututup telingaku dengan bantal, kuraih tubuh adikku,
kurapatkan dekapan kami. Detak jantung kami berdegup cepat sekali. Akhirnya
kami tertidur…
Keesokkan harinya kami terbangun, jam dinding berdentang enam kali. Kuhentakkan
Aji.
"Aji.. ayo bangun, kita harus sekolah! ayo cepat, nanti
kesiangan…"
"Eh, Mas, apakah tadi malam kita memakai selimut ini?" tanya Aji
keheranan, sambil membukakan selimut tebal yang menyelimuti tubuh kami
berdua.
"Kurasa tidak…'kan ini selimut Mama. Mengapa ada di sini?"
Segera aku berlari keluar kamar. Ha!? Orangtuaku pun belum pulang. Kunci kamar
tamu masih tergeletak pada laci tempatnya. Aku bingung. Aji pun bingung…
"Kalu begitu, siapa yang menyelimuti kita ya…?" Aji bertanya. Aku
memandang Aji, kami saling pandang. Lalu secara bersamaan kami berteriak sambil
berlari menuju keluar rumah.
"Hantuuuu….!!!"
"Eit, eiit…apa-apaan ini, kalian berdua…?" sekonyong-konyong mamaku
datang dari arah dapur. Saat itu juga aku lega. Lega sekali…..
Gadis itu merapatkan jaketnya, menaikkan resletingnya. Pandangan matanya tak
beralih dari danau yang menghampar di hadapannya. Dingin rantai ayunan yang
digelantungi kedua tangannya menambah rasa dingin yang menggigiti kulitnya.
Dingin besi bangku ayunan menembus celana jeans yang dipakainya, menambah rasa
dingin yang makin menusuk. Meski begitu, ia tak pernah punya niat untuk bangkit
dari ayunan dan mencari kehangatan.
Perih
Gadis itu mengusap dadanya, mengingat rasa sakit hatinya yang membuatnya lari
ke danau ini dan merenung. Merenungi sebab-sebab mengapa hidupnya ini penuh
dengan masalah. Ia stress. Depresi.
Orangtuanya memaksa dirinya untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal,
termasuk dalam hal yang tidak mampu ia jalani. Adiknya selalu memfitnahnya dan
menjadikannya orang yang selalu salah di mata kedua orangtuanya. Mereka kerap
bertengkar hebat hingga tinju mereka berbicara. Sudah berkali-kali ia disumpahi
mati oleh adiknya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Ia harap adiknya tak
pernah dilahirkan ke dunia ini.
Teman-temannya terlalu bergantung padanya, baik dalam masalah finansial maupun
pelajaran. Ada PR, tugas, atau ulangan? Tanyalah jawabannya pada sang gadis.
Kurang uang? Pinjamlah pada sang gadis. Tak harus dikembalikan kok. Begitu
pendapat teman-teman si gadis. Siapa yang tidak depresi jika setiap hari selalu
diperlakukan seperti itu?
``````````
Seorang pemuda sebaya sang gadis berjalan dalam kecepatan yang konstan ke
tempat dimana sang gadis berada. “Mau teh?” tawarnya pada sang gadis. Tanpa
bicara sang gadis mengambil mug yang disodorkan sang pemuda. “Doumo arigatou…
thanks…,” ucapnya lirih. Tanpa bicara, sang pemuda mengambil tempat di ayunan
sebelah sang gadis. Sang pemuda mengambil ancang-ancang, lalu berayun. Rambutnya
beterbangan diterpa angin, tersibak, menunjukkan paras rupawan yang nampak
cerdas, pengertian, dan menyenangkan.
“Kekanak-kanakan sekali, sudah bangkotan begini masih bermain ayunan seperti
itu,” dengus sang gadis. Sang pemuda, masih terus berayun, tertawa lepas. “Ah,
biar. Aku kan memang kekanak-kanakan. Lagipula aku baru tujuh belas tahun. Kau
harus berayun juga. Rasanya menyenangkan,” sahut sang pemuda. “Menyenangkan
apanya. Aku malah makin kedinginan kalau ikut berayun. Jaketku tipis, tahu,”
bantah sang gadis. Sang pemuda mendadak menghentikan laju ayunannya, lalu
menatap wajah sang gadis dalam-dalam.
“Kau masih dipusingkan akan semua masalahmu?” tanya sang pemuda khawatir. Sang
gadis mengangguk. Terdiam. Angin malam perlahan bertiup. “Ceritakanlah hidupmu
dengan cara yang tak pernah kau gunakan sebelumnya,” pinta sang pemuda. Sang
gadis tidak bereaksi. Masih memandang lurus ke depan. Bibirnya masih tertutup.
Sang pemuda ikut memandang lurus ke depan. Menatap kelamnya air danau di
kegelapan malam.
Untuk beberapa lama, tiada suara yang keluar dari bibir kedua insan itu. Yang
ada hanya suara alam. Paduan suara para jangkrik bersahut-sahutan, beradu
dengan paduan suara para katak laiknya dua paduan suara yang sedang beradu
vokal. Burung hantu ber-uhu-uhu lembut dari dahan pohon. Desir ombak danau
turut meramaikan suasana. Bulan purnama bersinar terang. Seharusnya ini bisa
menjadi malam yang sangat indah dan romantis. Seharusnya.
“Aku bagaikan hidup di dalam lubang yang dalam, gelap, dan dingin…,” desah sang
gadis memecah keheningan. “Dimana tak ada cahaya maupun jalan keluar…,”
sambungnya lirih. Sang pemuda menoleh, menatap wajah cantik sang gadis yang
tertutupi oleh kepedihan dan kegalauan yang teramat sangat ruwet. “Mengapa tak
ada jalan keluar dan cahaya?” tanya sang pemuda. Sang gadis menutup kedua
matanya, lalu menjawab dengan pedih, “Karena aku sudah terlalu lama terjatuh ke
dalam lubang itu. Seluruh jalan keluar dan jalan cahaya telah tertutupi oleh
seluruh batu kesalahanku. Sungguh tak ada jalan…”
“Tiadakah orang yang mampu menyelamatkanmu dari lubang itu?” tanya sang pemuda.
Sang gadis perlahan menggeleng. “Sepertinya tiada…,” bisik sang gadis.
Bulir-bulir airmata berjatuhan, mengalir di pipinya. “Apa kau benar-benar
percaya akan hal itu?” tanya sang pemuda lirih. Kata-kata sang gadis laiknya
jarum tajam yang turut menggores-gores hatinya.
Sang gadis perlahan mengangguk. Air matanya terus berjatuhan, menganak sungai
di pipinya. Sang pemuda bangkit dari ayunan, lalu berlutut di hadapan sang
gadis. “Tapi percayalah padaku. Masih ada seorang pangeran yang akan
menyelamatkanmu,” ucapnya sungguh-sungguh. Sepasang mata lembutnya bertemu
dengan sepasang mata sembab sang gadis. “A… apa maksdmu? Si... siapakah
pangeran pemberani itu?” tanya sang gadis terbata-bata, kaget. Sang pemuda
meraup tangan sang gadis, menggenggamnya, dan memberinya kehangatan.
“Pangeran itu... adalah aku...,” jawab sang pemuda sungguh-sungguh. Ia mengecup
tangan sang gadis. Tak disangka-sangka, sang gadis langsung menubruk sang pemuda,
merengkuhnya erat dalam lengannya. “Kuharap… kuharap kau benar-benar akan
menyelamatkanku, pangeranku…,” isak sang gadis. Isakan terus mengalir dari
bibirnya. Kali ini bukanlah isakan sedih. Bukan isakan marah. Bukan pula isakan
frustasi. Melainkan isakan haru dan bahagia.
Paduan suara para jangkrik dan katak menyanyikan senandung alam yang merdu.
Suara uhu-uhu burung hantu meningkahi senandung paduan suara itu. Kunang-kunang
berterbangan, sinar bulan purnama terpantul di permukaan danau, dan jutaan cahaya
bintang dari jutaan tahun lalu berkilauan di angkasa, memberikan backsound dan
efek visual alami nan indah luar biasa. Seindah perasaan kedua insan manusia
yang berada di sana.